Saturday, April 10, 2010

Coba gratis dulu !

. Saturday, April 10, 2010

Baru kali ini saya mengajak kedua anak saya renang ke suatu hotel di Bandung. Anak saya yang pertama sudah biasa renang karena di sekolah juga belajar renang, tapi anak saya yang bungsu baru belajar renang, bisanya sih cuma ‘nyemplung’ dan baru ‘mengenal air’, alias baru belajar. Jika orang tuanya sendiri yang melatih, rasanya agak sulit mengajari anak sampai bisa berenang.

Maklum, ada rasa kasihan pada anak harus belajar menyelam, ‘minum air’ kalau kecelakaan. Tidak tega rasanya melihat anak kedinginan. Kadang-kadang si anak juga tidak menurut sama orang tua kalau diajari renang. Seperti anak saya yang pertama, belajar di sekolah lebih cepat daripada diajari orang tuanya karena ada motivasi sendiri seperti bermain dengan teman-teman sekolahnya, takut sama guru, ada target dari sekolah, dan sebagainya.

Yang jelas, kelihatannya lebih mudah diajari oleh guru lain daripada orang tuanya.
Di hotel tersebut ada beberapa guru renang yang mengajar anak-anak, semacam less renang secara periodik. Saya coba mendekati pelatih tersebut, sekedar mengenal berapa tarifnya, berapa lama biasanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa berenang bagi anak seusia anak saya.

Setelah berbincang-bincang sebentar, pelatih tersebut menawarkan diri dan mendekati anak saya untuk diajari renang.
Anak saya kemudian mulai belajar renang dengan pelatih tersebut untuk beberapa menit.

Ini semacam uji coba gratis. “wah luar biasa Pak, anak Bapak sudah berani menyelam’, katanya dengan bangga. Anak saya juga kelihatnanya menikmati sekali diajari oleh pelatih tersebut, meskipun nafasnya kelihatannya ‘ngos-ngosan’ dan kadang hidungnya kelihatan merah karena menyelam.

Kawan, coba gratis seperti itu sering dilakukan oleh para penjual atau pemasar dalam menawarkan produk atau jasanya. Cara sepertiini cukup ampuh untuk menarik pelanggan.

Lihatlah kegiatan yang dilakukan oleh Yamaha motor dalam melakukan penjualan. Mereka datang ke sekolah-sekolah mengadakan event dan memberikan ‘coba gratis’ kepada para anak sekolah.

Di bidang otomatif, beberapa perusahaan menawarkan test drive kepada para calon pelanggannya. Penjual parfum mengorbankan satu botol parfum untuk dicoba gratis bagi para calon pelangggannya. Bahkan Koran tertentu juga memberi langganan gratis untuk beberapa minggu kepada calon pelanggannya.

Mainan anak-anak yang boleh dicoba dulu oleh anak-anak saat ini banyak ditawarkan di mall-mall tertentu. Coca cola juga pernah menawarkan gratis kepada mahasiswa suatu perguruan tinggi pada produk ‘zero’ nya.

Banyak contoh yang bisa kita amati dalam coba gratis ini. Ampuh ?
Dari pengamatan saya, upaya ini cukup berhasil dalam menggaet calon pelanggan. Dengan merasakan dan menikmati jasa yang ditawarkan, pelanggan biasanya terbujuk oleh ‘rayuan’ para penjual ini.

Tentu cara ini harus dilakukan dengan jujur dan akrab, serta tidak menimbulkan paksaan bagi pelanggan. Sebab kadang-kadang pelanggan dipaksa untuk mencoba produknya meski sebenarnya pelanggan tidak berminat.

Coba saja kita tengok cara-cara penjualan yang dilakukan di mall-mall tertentu. Beberapa kali saya lewat, para salesman seolah memaksa pelanggan untuk mencoba alat pijat yang ditawarkan, padahal para calon pelanggan sebenarnya tidak berminat bahkan ada yang karena terburu waktu tidak bersedia untuk mencoba produknya. Kesannnya seperti memaksa, sehingga target penjualan tidak tercapai.

Nah, jika Anda berniat melakukan coba gratis produk Anda kepada calon pelanggan, pastikan semuanya dilakukan secara terencana, lakukan tanpa paksaan, dan yang pasti.. jalin hubungan yang baik dulu. Anda tidak serta merta langsung menawarkan coba gratis ini karena tidak semua calon pelanggan merupakan pelanggan potensial.

Mau mencoba ?

0 comments:

Post a Comment