Sunday, June 27, 2010

Lama bekerja = Hasil ?

. Sunday, June 27, 2010


Berapa lama Anda bekerja di kantor ? Delapan jam, sembilan jam atau bahkan lebih ? Standar kerja di hampir semua perusahaan di Indonesia adalah rata-rata 8 jam. Biasanya dimulai jam 8.00 pagi sampai dengan jam 17.00.

Saya sering melihat banyak karyawan yang melakukan lembur atau bagi yang menduduki jabatan – melakukan kerja ekstra tanpa lembur sehingga harus pulang lebih lambat atau lebih dari jam 17.00. Untuk para pejabat seperti ini, sudah menjadi keharusan bahwa mereka kerja 24 jam sehari. 24 jam ? ya, istilah mereka untuk mengatakan bahwa mereka memang dituntut untuk lebih banyak memikirkan kantor (bahkan di rumah pun harus juga memikirkan kantor??).

Celakanya, para karaywan atau para staff ikut-ikutan juga pulang terlambat mengikuti atasan mereka yang pulang terlambat. Salah satu alasan mereka adalah karena malu pulang lebih cepat dari si ‘boss’. “Bos saja belum pulang, masa kita pulang lebih cepat,” begitulah alasan mereka. Saya pernah mempunyai atasan seperti ini. Kita tidak boleh pulang lebih cepat dari si “bos” karena bos beranggapan bahwa masih ada pekerjaan yang harus ‘dia’ selesaikan, sehingga kalau kita pulang lebih cepat dan ada sesuatu atau data-data yang dibutuhkan, si bos tidak kesulitan untuk memperoleh data-data tersebut. Pulang larut malam masih banyak disitilahkan sebagai bekerja keras, berarti peduli dengan perusahaan.

Di satu waktu, saya juga pernah punya atasan yang disiplin. Pulang tepat waktu dan pulang pun harus tepat waktu pula. “Ayo.., sudah waktunya pulang, istri dan anak-anak mu menunggu di rumah,” begitulah hampir setiap hari bos ini menghimbau kepada para karyawan agar pada waktu jam kerja berakhir, karyawan harus pulang. Kadang-kadang listrik padam jika jam kerja sudah berakhir, entah disengaja atau tidak. Tapi kami beranggapan, begitulah caranya si bos ini mengusir karyawannya pulang. Hal ini menyebabkan karyawan harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum listrik dipadamkan atau jam 17.00 harus sudah beres semuanya.

Nah, kalau Anda punya atasan seperti tersebut di atas, bos mana yang Anda pilih, yang pertama atau yang kedua. Saya berani memastikan, bahwa Anda akan memilih bos yang kedua.

Persamaan yang sederhana : lama bekerja = hasil kerja, untuk saat ini sudah tidak relevan. Rumus ini mungkin masih eleven untuk jaman dulu. Atau pekerjaan ini mungkin lebih tepat untuk perusahaan pertanian atau manufaktur, di mana semakin lama membajak sawah, maka lebih banyak sawah yang bisa dibajak. Atau semakin lama mesin-mesin bekerja, maka semakin banyak produk yang dapat dihasilkan.

Untuk bidang-bidang tertentu mungkin persamaam ini masih relevan. Namun menahan karyawan untuk pulang terlambat atau hanya untuk menunggu si bos, merupakan kesalahan fatal, karena lama bekerja tidak ada hubungan dengan hasil.
Kita masih banyak melihat karyawan datang pagi-pagi, bahkan jam 07.00 sudah nagkring di kantor atau ‘lembur’ sampai malam. Namun apa hasilnya ?

Cobalah lihat, apa yang mereka kerjakan pagi-pagi, atau apa yang dikerjakan sore hari. Saya melihat banyak yang hanya mengobrol, atau kelihatan sibuk memainkan lap top nya. Entah apa yang dikerjakan. Tapi nyatanya, perusahaan tidak maju-maju saja. Teman saya berceloteh,”Kerja sampai malam saja perusahaan tidak maju, apalagi pulang cepat”. Maksud saya, bukan pulang lebih cepat, tetapi pulang tepat waktu. Saya beranggapan bahwa saat ini diperlukan kreativitas dan inovasi dalam menyelessaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Diperlukan kecerdikan dan kelihaian agar pekerjaan-pekerjaan tersebut dapat diselesaikan tepat waktu.

Mengapa saya tidak setuju kalau bekerja sampai malam atau lembur ?

Pertama : Semakin lama seorang karyawan bekerja berarti sebuah pemborosan. Artinya perusahaan harus membayar lembur kepada karyawan. “Di tempat saya, perusahaan tidak membayar lembur pak, tapi karyawan dengan sukarela bekerja sampai malam.” Wah kalau begitu, perusahaan ini tidak memperhatikan karyawannya dan cenderung ‘mengeksploitasi’ karyawannya (istilah ini mungkin terlalu kejam untuk disampaikan).

Kedua : bekerja terlalu lama dapat menyebabkan karyawan tidak focus sehingga karyawan sering membuat kesalahan. Kesalahan ini kadang harus dibayar dengan harga yang tinggi karena merugikan perusahaan. Mengapa, orang-orang yang bekerja di rumah sakit atau pilot sangat ketat dalam pengawasana jam kerja. Karena kalau mereka melakukan kesalahan akan berakibat fatal bagi pasien atau penumpang.

Ketiga : bekerja terlalu lama dapat menyebabkan berkurangnya kesehatan fisik dan mental. Karyawan akan mengalami tekanan mental, sehingga sering menjadi stress dan selanjutnya akan berdampak pada kesehatan karyawan. Lembur sekali dua kali tidak apa-apa, tetapi kalau lebur yang terlalu sering dapat mempengaruhi fisik dan mental karyawan. Teman saya mengatakan,”rambut saya sudah habis karena memikirkan perusahaan”, atau ,”tanpa disadari rambut kita semua pada memutih karena stress”.

Cobalah perhatikan karyawan di lingkungan kerja Anda. Lihatlah apakah raut muka mereka kelihatan cerah, sehat dan gembira? Atau bahkan sebaliknya, wajah-wajah mereka yang menunjukkan keletihan karena bekerja sampai larut malam.

Keempat : karyawan dapat pulang tepat waktu juga merupakan kebahagian karena mereka segera dapat berkumpul dengan keluarganya. Karyawan yang bahagia di rumah, besar kemungkinan di kantor pun mereka dapat menikmati pekerjaannya dengan baik.
Suasana yang lebih santai dan segar dapat membuat orang lebih produktif dan lebih kreatif. Orang akan sulit bekerja dalam suasana yang stress dan suasana kerja yang tidak kondusif, yang hanya mementingkan jam atau lamanya kerja.

Beberapa perusahaan besar di Indonesia bahkan mengharuskan karyawan untuk mengambil cuti. Mengapa ? Selain karena alasan kesehatan, di mana karyawan harus beristirahat untuk memikirkan perusahaan, cuti juga merupakan cara untuk menghindari kebocoran perusahaan,karena selama diganti oleh pejabat pengganti, seluk beluk pertanggungan keuangan akan dengan mudah dapat diawasi.

Yang penting bagi saya bukanlah seberapa lama kita bekerja, juga bukan seberapa tepat waktu kita hadir di kantor, tetapi bagaimana kita menggunakan waktu yang hanya 8 jam tersebut dapat menghasilkan sesuatu atau memberikan nilai bagi perusahaan atau – menggunakan waktu yang tersedia untuk dapat menjalanakn segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya, berkaitan dengan apa yang dapat kita sumbangkan ke perusahaan kita dengan waktu 8 jam tersebut. Artinya seberapa efektif kita bekerja, bukan seberapa lama kita bekerja.

Saya ingat betul apa yang disampaikan bos saya jenis kedua di atas pada waktu saya bekerja : ”Jangan main-main di waktu jam kerja, selesaikan tugas dan pekerjaan dengan efektif”. Dengan mengubah nilai-nilai bekerja bagi karyawan, maka hasil kerja diharapkan lebih banyak atau dengan kata lain karyawan akan lebih produktif.

Bagaimana menurut Anda ?

1 comments:

Top Training Indonesia said...

Inspiratif dan menarik sekali artikelnya!

Post a Comment