Thursday, March 11, 2010

Experential Marketing

. Thursday, March 11, 2010


Siapa yang tidak kenal Sony Ericson, saya yakin sebagian besar konsumen Indonesia familiar dengan merek ini. Meskipun bukan penguasa pasar utama di Indonesia, tetapi nama ini sangat popular untuk merek-merek handphone-nya.

Yang menarik bagi saya adalah cara memajang produk-produk Sony Ericson di gerai-gerainya. Misalnya, jika Anda berkunjung ke gerai atau service centre Sony Ericson di BEC, Anda akan merasakan pengalaman yang luar biasa dengan memegang produk-produk Sony Ericson. Meskipun itu hanya tiruan, tetapi Anda akan merasakan bahwa produk tersebut mirip dengan produk aslinya. Hampir semua produknya di pasang di meja-meja pameran gerainya sehingga Anda bisa menyentuh, memegang dan seolah mencobanya. Dan yang menarik lagi adalah setiap gerainya kelihatan apik dan menarik.

Melalui sentuhan, dan berani mencoba produknya, konsumen akan merasakan pengalaman seolah-olah memiliki produk tersebut. Hampir semua panca indera disentuh melalui pengalaman tersebut.

Dalam pemasaran, konsep seperti ini dikenal dengan Experential Marketing. Mengapa experience ? Melalui experience (pengalaman), konsumen akan merasakan produk nya. Tentu konsumen tidak ingin ‘membeli kucing dalam karung’. Konsumen biasanya ingin mencoba produknya terlebih dahulu. Jika konsumen merasakan nikmatnya mencoba produk sebelum membeli, maka pemasar akan lebih mudah mempengaruhi pembeli.

Di Sony Ericson, hampir tidak ada penjual yang mendekati para calon konsumen. Jadi konsumen seolah dibiarkan sepuasnya mencoba produk-produk yang dipajang di sana. Jika menginginkan pelayanan atau penjelasan lebih lanjut, konsumen bisa memanggil customer service yang ada di sana. Konsumen pun bisa menjadi bertambah loyal dengan produk yang sudah ‘dicobanya’.

Jika diamati, banyak perusahaan yang menggunakan teknik ini dalam merayu calon konsumennya. Test drive adalah satu contohnya. Beberapa dealer sepeda motor datang ke sekolah-sekolah agar para siswa mencoba mengendarai motornya. Toko Gramedia, membiarkan pengunjungnya untuk membaca- baca buku yang ada di tokonya. Perusahaan yang menjual alat pijat yang sering Anda temui jika Anda mengunjungi mall-mall tertentu juga membiarkan calon konsumen merasakan nikmatnya dipijat dengan alat pijat tersebut. Beberapa perguruan tinggi mengundang para siswa SMA ke kampusnya untuk merasakan ‘seolah-olah’ mereka sudah kuliah di sana. Dan banyak lagi yang lainnya.

Mereka menginginkan konsumen mengalami hal yang menyenangkan dengan produk-produknya. Konsumen menyukai experience sebagai bagian dari upaya mempelajari suatu produk. Jika konsumen senang pada waktu mencoba, complain biasanya jarang terjadi, karena konsumen sudah puas pada waktu mencobanya. Dan akhirnya loyalitas konsumen akan meningkat.

Survey yang pernah dilakukan oleh Jack Morton research, sebuah biro riset di Amerika Serikat pada tahun 2005 menunjukkan bahwa experiential marketing mempengaruhi opini mereka tentang merek dan produk. Sekitar 70% mengatakan bahwa 70% kegiatan ini meningkatkan pertimbangan mereka untuk membeli, bahkan 50% lebih bahkan membeli produknya.

Jika experiential marketing mampu mempengaruhi konsumen untuk membeli, mengapa Anda tidak mencoba menggunakan cara ini ?

0 comments:

Post a Comment