
Bagi Anda yang sudah bekerja dan sudah berkeluarga, cobalah renungkan aktivitas Anda sehari-hari. Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk bekerja di kantor, berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk keluarga ? Lebih banyak mana waktu Anda di kantor dibandingkan dengan keluarga ?
Saya sendiri menghabiskan waktu di kantor kurang lebih 10 jam. Pagi-pagi sekali jam 6 saya harus ke luar rumah menembus kemacetan lalu lintas untuk bisa sampai di kantor. Masih bersyukur saya bisa mengantarkan anak-anak ke sekolah. Waktu bersama anak-anak masih bisa saya rasakan hanya sampai mereka di sekolah. Jam 7 mereka sudah masuk sekolah, itu berarti, kami melakukan aktivitas masing-masing.
Saya sampai di kantor masih terbilang sangat pagi, mengingat jam kantor saya jam 08.00.
Pulang dari kantor kira-kira membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di rumah. Jadi kurang lebih jam 6.00 saya baru sampai di rumah. Di luar jam kantor itulah waktu saya gunakan sehari hari untuk bermain-main dan bercengkerama dengan anak-anak dan dengan isteri tercinta.
Waktu dua bulan terkahir ini, saya merasa harus meningkatkan prestasi saya di kantor. Meskipun jam kerja saya tidak berubah, namun seringkali saya masih memikirkan pekerjaan kantor. Bukan hanya memikirkan, tetapi, bahkan sampai larut malam sering juga mengerjakan pekerjaan kantor. Belum lagi BBM yang ‘menghabiskan waktu’ untuk komunikasi dengan temman-teman virtual. Tentu saja hal ini membuat waktu saya untuk keluarga menjadi semakin sedikit.
Jika Anda mengalami hal seperti ini, bagaimana hubungan Anda dengan keluarga dengan anak-anak? Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, mungkin hubungan Anda dengan keluarga menjadi semakin renggang, ada yang hilang meskipun waktu kita sedikit berkumpul dengan keluarga, yang penting kualitasnya.
Pernyataan tersebut tidak salah, tapi kalau ditambahkan, jika waktu kita lebih banyak dan berkualitas bukankah lebih baik ?
Lama saya merenung, apakah kualitas pekerjaan dan produktivtitas saya meningkat. Ternyata tidak banyak peningkatan hasil pekerjaan yang saya capai.
Di sini keseimbangan antara pekerjaan, dan hubungan dengan keluarga sama-sama penting, Anda tidak bisa hanya mencurahkan sebagian besar waktu Anda dengan pekerjaan-pekerjaan Anda, dan memperkecil waktu Anda dengan keluarga. Semuanya perlu seimbang.
Ada yang bilang, jika waktu Anda bekerja, bekerjaklah dengan baik dan sungguh sungguh. Demikian juga jika Anda bermain bermainlah sungguh-sungguh. Dengan kata lain, Anda harus fokus dengan apa yang Anda lakukan,
Artinya di saat kita bekerja kita harus betul betul bekerja di mana pikiran dan badan kita juga ada di pekerjaan tersebut. Jika pikiran kita ada di tempat lain, kemungkinan Anda tidak fokus melakukan pekerjaan Anda. Demikian juga jika Anda bermain dan berkumpul di rumah, sebaiknya Anda menghindari memikirkan pekerjaan Anda. Tetapi bermainlah dan curahkan seluruh perhatian Anda ke rumah.
Dengan melakukan keseimbangan tersebut, saya akhir-akhir ini merasa lebih bahagia, lebih dekat dengan anak-anak dan intri tercinta. Tanpa mengurangi kualitas pekerjaan saya, demikian juga dengan dekatnya hubungan denga keluarga, maka hasil pekerjaan bukannya berkurang tapi kualitas pekerjaan saya pun bahkan menjadi lebih baik.
Jadi di saat bermain, bermainlah yang baik. Di saat bekerja, bekerjalah dengan baik
Play Well, Work Well
Bagaimana dengan Anda ?
About Me
- I Made Wirya Saputra, SE, MM
- Seorang dosen, trainer dan praktisi serta pengamat di bidang marketing, manajemen, dan bisnis.
Labels
- Berita Pendidikan (2)
- Customer Service (12)
- Kepuasan Pelanggan (7)
- Logistik (4)
- Manajemen (10)
- Marketing (41)
- Motivasi (56)
- Pelayanan Memuaskan (27)
- Quotes (1)
- Self Improvement (11)
- Selling (11)
- Time Management (2)
Wednesday, March 7, 2012
Play well Work well
Labels: Self ImprovementThursday, December 24, 2009
Proses dan Hasil
Labels: Self ImprovementKemain saya berdebat dengan teman saya tentang “konsep proses” dan “konsep hasil”. Apa bedanya ? Cobalah Anda simak percakapan berikut.
“Apa yang bisa Anda lakukan pada proyek ini besok ?”
“Kita akan mengadakan pembahasan dengan tim yang sudah dibentuk”.
“Apa tujuan pembahasan itu ?”
“Kita akan mencoba mencari solusi agar proyek ini bisa disetujui oleh BOD”.
Ini bukanlah jawaban bagus. Mencoba bukan tindakan bagus. Mencoba berarti tidak berkomitmen, karena mencoba mencari solusi . Jika Anda mendatangi sebuah pertemuan pembahasan dengan tujuan sekedar ‘mencoba’, maka Anda akan gagal !
Suatu kali Anda bertanya,”Bisakah Anda membereskannya sampai besok siang ?”, jawaban staff Anda “Akan saya coba”, jangan pernah dipercayai, paling tidak, cobalah untuk tidak percaya.
Saya teringat dengan pidato seorang direktur lembaga pendidikan pada waktu saya diundang mengikuti wisuda mahasiswa. Beliau bercerita, pada waktu wawancara melamar kerja pertama kali, beliau ditanya,"Bisakah Anda membuat laporan keuangan?". dengan mantap beliau menjawab,"Bisa pak !".
Dengan komitmen penuh, beliau kemudian membuktikan diri bahwa beliau sanggup berkat komitmen itulah beliau berhasil diterima bekerja pertama kali.
Banyak orang yang menganggap “proses” sebagai solusi yang memuaskan, padahal itu SALAH. Memperoleh “hasil” itulah solusi yang memuaskan.
Wednesday, August 12, 2009
Manusia Pembelajar
Labels: Self Improvement
Baru-baru ini saya mengikuti sebuah workshop di suatu perguruan tinggi. Menjelang berakhirnya acara, salah seorang peserta yang sudah sabar menunggu ditutupnya acara berbisik kepada saya,”Yang penting kan sertifikatnya, ini untuk mencari poin buat kenaikan pangkat saya.” Saya juga pernah mengadakan pelatihan PR bagi beberapa perusahaan. Kebanyakan peserta lebih berorientasi kepada sertifikat yang diperoleh.
Meskipun sertifikat itu penting, namun menurut saya, ilmu yang diperoleh pada waktu mengikuti workshop jauh lebih penting daripada sekedar sertifikat. Di perusahaan saya dahulu, dan mungkin perusahaan-perusahaan lainnya, sertifikat tidak begitu dihargai untuk kenaikan pangkat atau semacamnya. Yang dinilai adalah bagaimana perilaku atau pengamalan teori yang sudah dipelajari selama workshop atau seminar dapat bermanfaat bagi perusahaan dan tentunya bagi peserta sendiri.
Beberapa mahasiswa juga masih banyak yang hanya mementingkan sertifikat (ijazah) daripada belajarnya. “Yang penting kan ijazah dan nilai atau IPK nya tinggi, masalah ilmu nomor dua,” mungkin ada yang berpendapat demikian.
Apa sih artinya sebuah sertifikat ? Bagi saya, sertifikat tidak lebih dari sekedar ‘surat keterangan’ yang menyatakan bahwa seseorang sudah mengalami suatu proses belajar. Jika Anda seorang lulusan D-3 setelah lulus Anda akan memperoleh Ijazah yang menunjukkan bahwa Anda sudah mengikuti pendidikan D-3. Belum tentu orang yang memegang suatu sertifikat memiliki keahlian atau kompetensi jika dia tidak terus menerus belajar. Orang yang berpendidan setingkat S-2 atau S-3 belum tentu memiliki keahlian lebih dibandingkan tamatan D-3 jika yang bersangkutan tidak pernah lagi (berhenti) belajar.
Saya pernah memperoleh skor TOEFL sampai 450, namun karena tidak pernah dilatih, jika saat ini saya di test lagi, belum tentu saya memperoleh skor dengan nilai sama dengan skor di atas.
Pada waktu saya mengadakan training Public Relations, saya memperoleh informasi dari peserta bahwa di Indosat, karyawan diharuskan mengikuti suatu pelatihan untuk memperoleh skill yang diharapkan dapat menunjang kinerjanya. Namun demikian, sertifikat juga diwajibkan untuk mengumpulkan poin yang akan diperhitungkan untuk perolehan jabatan atau kenaikan gaji.
Ini untuk menilai dan menunjukkan bahwa seseorang sudah mengikuti proses pembelajaran untuk peningkatan skill seseorang. Jadi tuntutan untuk mengejar ilmu dan skill melalui suatu pelatihan adalah suatu keharusan bagi perusahaan seperti Indosat. Bahkan setiap karyawan diwajibkan mengunjungi modul-modul yang sudah disediakan secara berkala melalui program e-learning yang disediakan perusahaan.
Oleh karena itu, kejarlah ilmu nya, sertifikat hanya menerangkan bahwa Anda sudah melalui suatu proses. Jauh lebih penting dari sertifikat adalah kemampuan Anda mempraktekkan ilmu yang diperoleh, dan mengamalkannya kepada orang lain. Inilah yang disebut sebagai manusia tipe pembelajar.
Saya sangat senang untuk belajar meskipun itu dari mahasiswa saya. Saya pun juga tidak malu untuk mengikuti pelatihan bersama-sama dengan mahasiswa dan sharing dengan mahasiswa. Bagi saya, kita harus senantiasa belajar dan kemudian mengamalkan apa yang diperoleh. Ada proses yang harus dilakukan untuk menjadi manusia pembelajar yaitu menangkap ilmunya, menerapkannya dan selanjutnya berbagi (sharing).
Jika Anda hanya senang belajar namun tidak pernah menerapkan ilmunya, Anda masih termasuk ke dalam tipe pelajar. Orang seperti ini senang belajar, tapi miskin dalam hal prakteknya.
Nah, Anda termasuk kelompok yang mana ? Yang pertama (hanya mementingkan sertifikat), pembelajar atau seorang pelajar ?
Sunday, July 12, 2009
Selalu Belajar
Labels: Self ImprovementTentu saja, teh itu tumpah dan terbuang percuma serta berhamburan ke mana-mana begitu cangkirnya sudah penuh. “Mengapa guru menyuruhku menuangkan the ini terus padahal cangkirnya sudah penuh guru?” demikian pemuda itu bertanya kepada gurunya sambil ragu-ragu dan heran dengan perintah gurunya.
Setelah menarik nafas sejenak, guru itu mulai menjelaskan. “Sama halnya dengan cangkir tadi, seorang yang merasa dirinya sudah pintar dan tidak membutuhkan saran dan masukan dari orang lain, orang itu menjadi sombong. Orang seperti itu tidak suka diberi ceramah dan nasihat”.
“Sifat merasa sempurna seseorang harus dihilangkan dari diri kita. Bila dibiarkan, maka sifat seperti itu akan tumbuh dan membesar. Biasanya orang yang merasa dirinya pintar akan merasa paling pintar, merasa bangga akan ilmunya yang didapat sehingga tidak mau belajar lagi”
Demikianlah nasihat guru itu kepada pemuda – muridnya tersebut.
Ingatlah untuk terus belajar karena ilmu ini demikian luasnya, belajarlah meskipun kepada seorang anak kecil. Pada hakekatnya, di dunia ini tidak ada yang sempurna, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa.
Thursday, June 25, 2009
Bank Emosi Anda
Labels: Self ImprovementAnda pasti tahu apa itu rekening bank, tempat kita menyimpan uang. Di sana kita bisa menarik dan menyetorkan sejumlah uang. Tidak setiap orang mempunyai rekening bank, namun dalam kehidupan ini, setiap orang mempunyai rekening bank emosi.
Apa itu bank emosi ? Rekening bank emosi adalah suatu kiasan di mana seseorang bisa mempunyai sejumlah kepercayaan (deposito) dalam membina hubungan. Seperti halnya rekening bank, maka deposito kepercayaan dalam bank emosi ini pun bisa ditarik (di debet) maupun disimpan (di kredit).
Seseorang akan percaya kepada Anda kalau Anda mempunyai deposito bank emosi yang banyak, dan demikian juga sebaliknya. Bahkan deposito yang banyak ini akan mampu menutupi penarikan-penarikan rekening deposito yang Anda miliki. Jika Anda mempunyai kesalahan yang kecil (penarikan atau debet), maka deposito kepercayaan yang ada dalam diri Anda akan menutupinya.
Bagaimana caranya menjaga atau menambah cadangan dalam rekening bank emosi ini ? Anda dapat menambah deposito ke dalam bank emosi Anda dengan melalui kejujuran. Anda sering berlaku jujur kepada teman Anda, maka teman-teman Anda akan senang dengan Anda. Seorang mantan mahasiswa saya bercerita, di tempat kerja dia sangat dipercaya oleh pemilik usahanya (boss). Bahkan bisa dikatakan, dia sekarang menjadi tangan kanannya untuk urusan-urusan bisnisnya.
Pada mulanya boss nya memberikan kepercayaan untuk mengantarkan kiriman. Karena rajin dan JUJUR, maka dia dipercaya untuk mengantarkan sejumlah uang. Selanjutnya jumlah uang yang dipercayakan kepadanya semakin besar. Saat ini dia dipercaya memegang kunci kantor dan brankas dengan tanggung jawab jumlah uang yang cukup besar. Berkat kejujurannya itu pula, dia bahkan sering diminta untuk menemani si boss. Boss nya betul-betul percaya kepadanya. Ini berarti deposito dalam rekening bank emosi nya tersimpan cukup banyak. Kesalahan kecil yang dilakukannya menjadi tidak berarti.
Apa yang terjadi kalau dia kemudian tidak jujur atau berkhianat ? Tentu boss nya tidak akan pernah percaya lagi kepadanya. Deposito dalam rekening bank emosinya akan terkuras, bisa-bisa habis. Berkhianat adalah penarikan yang besar dari deposito Anda, sebaliknya menjaga komitmen atau janji adalah deposito besar.
Cara lain untuk menambah deposito rekening bank emosi Anda adalah dengan melalui kebaikan, keramahan, sopan santun, menepati janji, minta maaf dan setia kepada yang tidak hadir. Sebaliknya Anda bisa mengurangi deposito bank emosi Anda dengan bersikap tidak hormat, semena-mena, berkata kasar, atau berkhianat.
Meminta maaf yang tulus kalau Anda berbuat kesalahan juga pantas dilakukan untuk menambah deposito bank emosi Anda. Berapa banyak kejadian buruk yang terjadi hanya karena seseorang tidak mau meminta maaf, atau kalaupun meminta maaf namun kata-kata atau intonasi yang keluar dari mulutnya tidak tulus.
Tingkat kepercayaan orang lain kepada Anda bisa bertambah tinggi atau berkurang tergantung kepada tindakan-tindakan Anda. Isilah rekening bank emosi Anda dengan hal-hal positif seperti di atas agar kepercayaan teman, rekan atau boss Anda kepada Anda selalu bertambah.
Fleksibel
Dalam semua situasi di atas, Anda tentu harus mengambil keputusan terbaik yang dapat Anda lakukan. Tentu Anda tidak akan tinggal diam, berkeluh kesah, menyesal, menunggu atau tidak melakukan aktivitas apa pun.
Saturday, June 20, 2009
Motivate yourself
Labels: Motivasi, Self Improvement
Berdasarkan teori motivasi, pada dasarnya seseorang dapat digolongkan ke dalam kelompok X (teori X) atau ke dalam kelompok Y (menurut teori Y). Mereka yang meyakini teori X berkeyakinan bahwa orang tersebut pada dasarnya adalah pemalas. Mereka harus dimotivasi secara terus menerus. Sedangkan mereka yang meyakini teori Y menyatakan bahwa pada dasarnya orang mampu mengatur dirinya sendiri dan mampu memotivasi dirinya sendiri.
Sunday, June 14, 2009
Zona Kenyamanan
Labels: Motivasi, Self Improvement
Dalam hidup ini kita sering merasa di dalam batas zona kenyamanan (comfort zone), yaitu di mana kita merasa nyaman dan menikmati berada dalam zona ini. Sebaliknya, zona di mana kita tidak merasa nyaman berada di luar batas kenyaman tersebut. Kalau digambarkan dengan sebuah lingkaran, di dalam lingkaran adalah zona nyaman dan di luar lingkaran adalah zona yang tidak nyaman.
Di luar zona nyaman, kita biasanya merasa tegang, cemas atau khawatir atau takut berbuat kesalahan. Misalnya, bila kita merasa bahwa berbicara di depan umum adalah sulit atau menakutkan, maka zona ini berada di luar lingkaran dan merupakan zona yang tidak nyaman. Contoh lain, misalnya ketika kita berada di suatu daerah yang baru, di mana tidak ada orang yang kita kenal, kita merasa canggung, gugup atau takut bertemu dengan orang lain. Atau contoh yang lain, kita terbiasa untuk bangun siang yang tentu saja sangat nikmat bagi kebanyakan orang, maka zona ini disebut zona nyaman, bangun pagi adalah zona ketidaknyamanan.
Contoh lain lagi : misalnya, Anda seorang karyawan atau staff yang memperoleh gaji sedikit di atas UMR. Kadang orang merasa nyaman dengan kondisi tersebut karena merasa gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sehari-hari. Dengan rasa nyaman tersebut, orang biasanya tidak terpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa mengubah nasibnya. Perilakunya akan senantiasa terpatri sebagai seorang karyawan biasa. Tentu untuk keluar dari zona tersebut tidak mudah, apalagi pola pikirnya untuk menjadi seorang karyawan sudah mengakar dalam perilakunya. Bangun pagi saja kadang sulit bagi sebagian orang karena sudah merasa nyaman dengan kondisi seperti itu.
Lalu bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona nyaman ?
Untuk keluar dari zona nyaman, kita perlu belajar hal-hal yang baru. Tentu saja kesalahan-kesalahan mungkin bisa terjadi. Tapi dari situlah kita belajar. Setelah kita belajar kita akan merasan nyaman dengan zona yang baru ini. Itu berarti zona kenyamanan kita sudah berubah menjadi semakin luas.
Yang jelas, Anda harus mencoba dan dan belajar dari kesalahan. Untuk menjadi seorang public speaker Anda harus sering berlatih tampil di depan orang banyak. Untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda harus mencoba dan belajar dari orang-orang yang sudah berhasil. Untuk bisa bangun pagi, Anda harus punya niat dan mau mengorbankan ketidaknyamanan Anda di pagi hari.
Jadi, apabila kita menginginkan perubahan terhadap diri kita, kita harus keluar dari zona nyaman ini, dan ini umumnya membutuhkan usaha dan kerja keras. Mengapa ? karena untuk melakukan perubahan, harus ada perubahan dalam sikap dan perilaku. Karena orang merasa nyaman bila berada dalam zona nyaman ini, namanya juga zona nyaman ! Memang, kadang-kadang kita sulit untuk berubah. Namun kalau Anda tidak pernah mencoba, maka zona nyaman Anda akan selalu kecil.
Di dalam bisnis, Honda motor terlena di dalam zona nyaman - menjadi pemimpin pasar sehingga disalip oleh Yamaha Motor. Terlena sehingga kurang berinovasi sehingga akhirnya kalah oleh Yamaha Mio, meskipun akhirnya bangkit lagi.
Friday, June 12, 2009
Keteladanan
Labels: Motivasi, Self Improvement
Seorang ayah memberikan nasihat kepada anaknya agar tidak merokok dan menjelaskan bahwa merokok itu dapat membahayakan kesehatan. Suatu ketika, anaknya melihat ayahnya merokok. Anaknya tentunya bertanya mengapa ayah merokok, padahal kata ayahnya merokok itu dapat membahayakan kesehatan.
Thursday, June 4, 2009
Look Professional
Labels: Self Improvement
Jika Anda memilih suatu buku, pastilah Anda melihat sampulnya terlebih dahulu. Buku yang dikemas dengan sampul yang baik dan menarik akan membuat Anda tertarik untuk mengetahui isinya lebih lanjut. Sebaliknya, buku yang dicetak dengan sampul depan yang seadanya akan menimbulkan kesan yang biasa saja.
Hal ini berlaku juga apabila Anda bertemu pertama kali dengan seseorang. Pastilah Anda memberikan penilaian berdasarkan penampilan fisiknya terlebih dahulu. Barulah kemudian menilai hal yang lainnya.
Calon pelanggan atau pelanggan pun akan demikian pula dalam menilai seorang marketing. Dia akan enggan berhubungan atau membeli dengan seseorang apabila penampilannya tidak rapi dan tidak bersih.
Pelanggan akan memberikan penilaian kepada kita bukan hanya karena fakta tapi juga berdasarkan asumsi yang dia tetapkan berdasarkan pikirannya.
Penilaian ini utamanya terjadi pada menit-menit pertama bertemu dengan pelanggan yang dapat menciptakan kesan positif kepada kita. Kesan ini sangat berarti bagi Anda, karena kesan pertama bagi pelanggan akan menentukan keberhasilan Anda.
Lalu apa saja yang bisa membentuk penilaian seseorang ? pertama-tama, orang akan menilai kita melalui penampilan yang dapat dilihat dari pakaian yang kita kenakan, gaya rambut, dan asesori yang kita kenakan. 95% kesan awal pelanggan terhadap Anda ditentukan oleh penampilan Anda.
Pernah suatu kali saya kedatangan tamu yang ternyata adalah seorang Marketing Executive. Usianya kira-kira paruh baya, penampilan asal-asalan alias agak kumal, dengan membawa tas ransel yang juga seolah-olah membawa barang bekas. Ditambah lagi dengan rambutnya yang agak panjang melewati bahu. Hampir semua orang di kantor saya tidak menyukai orang tersebut. Itu karena penampilannya !
Pada umumnya, pelanggan akan menyukai penampilan kita yang bersih dan rapi. Bau mulut dan bau badan yang kurang enak juga akan mempengaruhi pembicaraan Anda dengan pelanggan.
Dengan pakaian, sepatu, wajah dan rambutnya, pelanggan akan menilai apakah kita profesional dan bersungguh-sungguh. Pelanggan yang melihat penampilan Anda yang baik juga akan berpikir, pastilah Anda bekerja pada perusahaan yang bonafid dengan produk-produk yang berkualitas.
Bila perusahaan mengharuskan Anda untuk mengenakan pakaian seragam, gunakanlah pakaian seragam tersebut dengan rapi. Perusahaan yang bonafid biasanya mempunyai aturan tentang penggunaan seragam.
Hal ini memberikan perasaan bangga pada marketing tersebut dan otomatis akan meningkatkan rasa percaya diri terhadap para marketing serta dapat meningkatkan citra perusahaan.
Hal ini pernah terjadi di salah satu BUMN yang pernah membebaskan karyawannya untuk tidak menggunakan pakaian seragam. Namun hal ini tidak belangsung lama karena berdampak buruk baik terhadap para marketing-nya maupun terhadap perusahaan tersebut.
Penggunaan seragam selain menunjukkan ciri khas perusahaan, ternyata juga bisa memberikan image yang positif bagi pelanggan. Tidak jarang seorang marketing dikenal oleh pelanggan karena seragamnya yang mengingatkan pelanggan kepada perusahaanya.
Cobalah Anda renungkan, bila Anda sedang berada di bandara, dan Anda belum memegang tiket untuk penerbangan Anda saat itu. Kebetulan Anda melihat seoang karyawati yang menggunakan seragam merah.
Maskapai penerbangan apa yang Anda ingat ? Atau Anda melihat karyawan lainnya yang menggunakan seragam biru, orange, batik atau yang lainnya. Dalam hal ini pikiran Anda akan digiring kepada perusahaan penerbangan tertentu yang akhirnya dapat menentukan pilihan Anda saat itu.
Tentu saja penampilan Anda disesuaikan dengan produk yang Anda jual atau dengan siapa Anda menjual. Jika Anda menjual kepada petani sebagai pemasok produk-produk pertanian, mungkin ceritanya akan berbeda.
Beberapa tips praktis untuk menjaga penampilan Anda agar kelihatan professional :
1. Rambut : bersih dan disisir rapi.
2. Jenggot dan kumis : tipis, rapi.
3. Pakaian : bersih, model tidak berlebihan, sesuai dengan standar perusahaan.
4. Sepatu : bersih dan bila perlu disemir secara teratur
5. Kesehatan pribadi : hindari rambut berminyak, bau badan, bau mulut, bau nafas, dan jaga kebersihan kuku
6. Aksesori : tidak berlebihan, sesuaikan dengan busana.
Jadi perbaiki dan sesuaikan penampilan Anda untuk menunjukkan bahwa Anda adalah seorang yang profesional dalam bidang Anda.
Monday, May 25, 2009
Pergaulan
Labels: Motivasi, Self Improvement
Dalam kehidupan Anda sehari-hari, Anda pasti bertemu dengan banyak orang. Ini adalah sifat manusia sebagai makhluk sosial, berinteraksi dengan lingkungannya. Jika Anda sudah bekerja, maka Anda pasti akan berinteraksi bergaul dengan orang-orang yang bekerja di kantor Anda. Sebut saja dengan atasan Anda, rekan sekerja Anda, atau bawahan Anda. Di rumah Anda juga sering bertemu dengan anak dan istri/ suami Anda, dan begitu juga dengan lingkungan masyarakat.
Bermacam-macam tipe orang yang akan ditemui mulai dari orang pesimis, maupun orang optimis, orang yang suka mengeluh, orang berpikiran maju, orang yang gagal atau pun orang sukses. Diantara orang-orang tersebut ada yang dapat memotivasi Anda, bahkan banyak yang justu melemahkan sikap mental Anda.
Orang-orang pesimis akan cenderung melihat dari sudut pandang negatif, melihat dari sisi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Cobalah dengar apa kata orang-orang pesimis,”cara itu terlalu sulit bagi kita”. Orang-orang ini akan melemahkan sikap mental Anda, menurunkan semangat Anda.
Sementara orang-orang optimis sebaliknya, akan berpikir secara positif dengan selalu melihat peluang-peluang yang ada. Mereka akan berkata,”coba cara yang lain”. Atau “masih ada kesempatan untuk mengejar target ini”. Berbeda dengan orang-orang pesimis, orang tipe ini akan mampu memberikan inspirasi dan memompa semangat Anda ketika Anda sedang menghadapi suatu masalah.
Orang-orang negatif akan cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan mereka. Sebaliknya orang-orang positif akan melihat dan bercermin kepada diri sendiri dan kesempatan.
Dengan siapa Anda bergaul akan menentukan siapa Anda. Ada yang mengatakan, jika Anda bergaul dengan pencuri, sebaik apa pun Anda, orang lain akan melihat Anda adalah temannya pencuri, bahkan Anda juga bisa di cap sebagai pencuri. Cap “pencuri” akan dekat dengan kehidupan Anda. Namun jika Anda bergaul dengan orang-orang baik, maka Anda pun akan dipandang sebagai orang baik.
Orang-orang yang sukses akan membuat Anda ikut termotivasi untuk sukses, orang-orang yang rajin atau semangat akan ikut menentukan sikap dan perilaku kita. Kita sering mendengar dari orang tua kita, kalau kita dekat dengan penjual minyak wangi, maka kita pun juga ikut menjadi wangi. Jadi lingkungan di mana kita berada akan ikut menentukan perilaku kita. Mereka akan ikut menentukan apakah Anda menjadi orang yang pesimis, atau orang yang optimis.
Saya mengamati perilaku orang-orang yang kantoran yang sering bersama-sama dan berkumpul bersama. Umumnya, perilaku mereka satu sama lain sangat mirip. Satu kelompok sering membicarakan hal-hal negatif mengenai tempat kerjanya, fasilitas yang disediakan perusahaan, atau pimpinan yang kurang responsif terhadap ide-ide mereka. Nyatanya mereka juga sepertinya tidak berbuat banyak untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Di sisi lain, kelompok orang-orang ulet akan lebih banyak berbicara mengenai apa yang bisa mereka lakukan, mengapa kondisi perusahaan sepertinya tidak begitu baik perkembangannya, namun tindakan nyata yang dilakukan lebih banyak dari kelompok pertama tadi. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut masing-masing mempunyai tipe dan perilaku yang sama.
Lihatlah mereka yang umumnya adalah perokok. Mungkin termasuk Anda sendiri, pada awalnya kebiasaan merokok yang Anda lakukan sekarang adalah hasil dari pergaulan Anda yaitu bergaul dengan orang-orang yang merokok. Begitu juga dengan prestasi yang didapatkan oleh seseorang, karena dia berteman dengan orang-orang yang juga mempunyai kemauan untuk maju.
Sebagai seorang karyawan ataupun pelajar, tentu Anda pun mempunyai target-target terentu dalam kehidupan Anda. Mungkin target dari perusahaan Anda, atasan Anda, atau tanggung jawab Anda terhadap keluarga. Jika sukses yang Anda inginkan bergaulah dengan orang-orang yang sukses, dengan orang yang mempunyai pikiran positif. Jika ingin sukses, pilihlah lingkungan yang mendukung pergaulan Anda untuk sukses. Semakin lama Anda berada dalam pergaulan suatu kelompok tertentu, maka Anda secara tidak langsung akan mempengaruhi sikap dan perilaku Anda.
Jadi lingkungan dan pergaulan Anda akan ikut mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan Anda. Ubahlah pergaulan Anda jika saat ini di sekitar Anda lebih banyak berkumpul orang-orang yang negatif, pesimis atau sejenisnya. Evaluasilah, seberapa banyak lingkungan Anda dapat memberikan inspirasi bagi Anda atau dapat memompa semangat Anda.
Jadi, pintar-pintarlah bergaul, carilah pergaulan yang dapat memotivasi Anda. Pergaulan akan menentukan siapa Anda, dan akan menjadi apa Anda.

