Wednesday, December 29, 2010

FALSAFAH POHON DURIAN

. Wednesday, December 29, 2010


Bila kita mendengar kata “DURIAN” apa yang akan terbayang di benak kita ? Buah dengan cita rasa yang sangat lezat, buah asli Asia dengan harga yang terbilang cukup mahal dibandingkan dengan buah lain, ataukah nilai gizi-nya yang tinggi sekaligus kandungan kolesterolnya yang tinggi, atau bahkan untuk menikmati buahnya perlu perjuangan ? Apa pun yang terbayang dibenak kita, durian sering juga disebut sebagai raja buah-buahan, di berbagai daerah di Indonesia. Durian sangat dikenal oleh masyarakat, di Jawa Tengah disebut Duren, di Jawa Barat disebut Kadu, di Tapanuli (Sumatera Utara) buah ini disebut Tarutung, bahkan diabadikan sebagai nama suatu daerah di Tapanuli Sumatera utara.

Pada musim durian , kita dapat dengan mudah mendapatkan buah ini, dari penjual di pinggir jalan sampai di supermarket. Produk olahannya pun bisa didapatkan di berbagai tempat dengan berbagai variasi dari permen bercita rasa “Durian” seharga Rp.100,-, dodol rasa durian, dicampurkan menjadi kue yang biasa disebut jenang dan berbagai makanan olahan dengan label exclusive yang berharga berlabel dolar di hotel berbintang. Buah ini memang luar biasa dan banyak penggemarnya.

Bila kita melihat pohon durian, maka dapat kita lihat bahwa pohon ini kalau sudah besar merupakan pohon yang lurus tinggi. Oleh karena itu, baik untuk bahan bangunan, ranting-rantingnya meski tidak terlalu besar sekalipun cukup mampu untuk menahan buah yang beratnya rata-rata berkisar 3 - 5 kilogram perbijinya, akarnya cukup kuat menahan batang atau pohonnya yang tinggi sehingga mampu menahan terpaan angin yang kuat. Pohon ini berumur panjang baik untuk reboisasi, daunnya yang rimbun mampu untuk menyerap CO2 dan memberikan oksigen yang cukup untuk mengurangi polusi bahkan menjadi paru-paru bagi bumi kita. Bunga dan kulit buahnya dapat dipergunakan untuk obat tradisional. Banyak manfaat dan khasiat yang dapat kita petik dari buah ini.

Untuk berkebun atau menanam buah durian tidaklah mudah karena selain perlu dana atau modal yang cukup besar, juga diperlukan ketekunan dan kesabaran dalam merawatnya. Selain itu, perlu waktu yang cukup lama untuk dapat memanen buah durian sejak ditanam yaitu berkisar antara 4 s.d 5 tahun pohon, bahkan diperlukan sampai 6 tahun untuk varietas tertentu. Awalnya buahnya sedikit atau hanya beberapa biji, namun makin tua pohon itu makiin lebat buahnya dan hasil panen akan makin banyak.
Andaikan Falsafah pohon ini bisa kita angkat menjadi etos kerja kita, mari kita ibaratkan PT. POS Indonesia ini sebagai pohon durian milik kita. Pohonnya yang lurus dan tinggi kita gambarkan sebagai visi atau cita-cita yang tinggi untuk kesejahteraan bersama, perusahan yang focus untuk menatap masa depan.

Ranting-ranting dari yang besar sampai ranting yang kecil yang kuat menahan buah, kita ibaratkan jejaring yang kita miliki dari kantor pusat, wilayah sampai kantor pos terkecil sekali pun, dari kota besar sampai daerah terpencil yang memiliki kemampuan, kekuatan dan ketangguhan yang mampu menghadapi gejolak kemajuan jaman, mampu melayani masyarakat dengan prima, setangguh ranting durian.

Akarnya yang kuat kita ibaratkan seluruh insan pos yang mampu berkolaborasi untuk mencari peluang dan menopang agar pohon kita menjadi makin kuat dan besar.
Daunnya yang rimbun dan memberikan kesejukan bagi lingkungan sekitarnya kita ibaratkan kinerja pos yang handal dan mampu menjadi mitra kerja yang baik bagi rekanan perusahaan dan masyarakat Indonesia umumnya.

Bunga dan kulit buah kita ibaratkan PT.Pos Indonesia memiliki Citra perusahaan yang Baik dan menjadi solusi dan kenyamanan bagi semua pelanggan.

Pohon “Perusahaan” ini sejak ditanam harus kita rawat, dipupuk, disiram dan dibersihkan dari hama pengganggu sampai pada akhirnya kita dapat merasakan panen buah “Durian”. Demikian juga perusahaan kita yang kita cintai ini. Untuk mencapai keinginan tersebut di atas kita harus mulai menanamkan falsafah ini sebagai falsafah perusahaan. Perlu kesabaran untuk mendapatkan hasilnya, seperti menanam pohon durian ini.

Menanam nilai-nilai ke semua jajaran karyawan Perusahaan pun tidak bisa instan – hari ini tanam langsung memperoleh hasilnya. Perlu waktu yang cukup lama untuk dapat menikmatinya. Nilai-nilai ini juga harus dirawat, disiram agar dapat meresap ke dalam hati karyawan. Istilah manajemen nya adalah proses internalisasi.
Semuanya harus dimulai hari ini, saat ini. Mulai hari ini marilah kita menjadi bagian-bagian dari pohon kita, melakukan hal-hal positif dari tingkat yang paling sederhana sekali pun. Mualilah dari yang kecil, niscaya hasilnya akan besar nantinya.

Mulai dari kesadaran dan kedisiplinan pribadi masing-masing kemudian di lingkungan kerja kita masing-masing, niscaya akan terbentuk jejaring yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya .Dan pada akhirnya tanpa terasa langkah yang kecil-kecil ini akan tercapai sebuah langkah besar. Mulailah belajar dari hal-hal yang kita anggap sepele tetapi sebenarnya akan membawa dampak yang sangat baik, bila kita secara konsisten melakukannya.

Marilah kita melayani pelanggan kita dengan sebaik mungkin, baik pelanggan external yaitu konsumen pemakai jasa POS maupun pelanggan internal yang terdiri dari lingkungan teman sekantor, baik itu atasan, teman sejawat bahkan sampai sub unit yang paling kecil pun. Mari kita perlakukan mereka dengan sebaik mungkin, dan lestarikan budaya melayani.

Belajar secara berkesinambungan adalah kunci keberhasilan suatu perusahan. Dalam menghadapi era persaingan diperlukan sumber daya manusia yang tangguh dalam menghadapi segala bentuk persaingan, dimana ketangguhan ini akan dapat tercipta bila tiap-tiap individu memiliki kemampuan yang baik dan pengetahuan yang up to date.
Untuk itu budayakan kebiasaan untuk berbagi ilmu atau pengalaman, bahkan cerita yang kiranya bisa untuk menambah pengetahuan dan membangkitkan semangat . Untuk mencapai sebuah tujuan mulia, diperlukan waktu yang cukup lama tidak bisa secara instant dan memerlukan biaya yang tidak murah seperti halnya merawat pohon Durian.

Jangan patah semangat, mari kita belajar dan belajar, dari berbagai sumber…. dari teman terdekat, tidak perlu malu untuk bertanya, dan bagi yang merasa memiliki informasi baru, jangan segan segan untuk berbagi ilmu kepada teman. Seperti kata orang bijak “Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, dan bila kita membagi ilmu yang kita miliki kepada orang lain dan orang tersebut mengamalkan ilmunya, maka pahala yang akan didapatkan tidak akan penah terputus”

Seperti halnya menanam pohon durian, semuanya dimulai dengan keuletan untuk merawat, menyiram, serta kesabaran untuk menunggu hasilnya, namun semuanya harus dilakukan – tidak bisa hanya menunggu. Demikianlah pohon durian memang banyak manfaatnya bagi kita semua, dan mungkin pantas dijadikan falsafah perusahaan. Bagaimana menurut Anda ?

-----
Artikel ini dimuat di Majalah Merpati Pos edisi Juni 2010

1 comments:

pamol said...

...setuju Pak Wir...sulit sekali menanam falsafah pohon durian, meski kita rasa lezat buahnya sebagaimana sulitnya menanam falsafah pohon thoyibah...telah kita coba dan akan terus kita coba...dilaksanakan dan diresapi, diresapi dan dilaksanakan, smoga....Sukses untuk Bapak

Post a Comment